oplus_0

Makassar — Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2025, Ikatan Santri Al-Fakhriyah (INSAF) bersama beberapa pembina Pondok Pesantren Multidimensi Al-Fakhriyah melaksanakan kegiatan Rihlah Ziarah Ulama ke berbagai makam ulama besar di wilayah Sulawesi Selatan dan Barat. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, mulai Rabu (22/10) hingga Kamis (23/10).

Setelah pelaksanaan upacara peringatan Hari Santri Nasional di lingkungan pondok, rombongan INSAF langsung berangkat menuju lokasi pertama, yaitu makam K.H. Faharuddin Dg. Tata di Kelurahan Bulurokeng, Kota Makassar. Beliau merupakan pendiri Yayasan Perguruan Islam Bulurokeng yang menaungi Pondok Pesantren Multidimensi Al-Fakhriyah.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke makam Syekh Sayyid Djamaluddin Assegaf atau Puang Ramma di Kabupaten Maros. Sosok ulama ini dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah perkembangan Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan sekaligus mursyid ke-12 Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassary.

Selanjutnya, rombongan berziarah ke makam AG. K.H. Abdurrahman Ambo Dalle di Mangkoso, Kabupaten Barru. Beliau merupakan ulama karismatik asal Bugis sekaligus pendiri organisasi Islam Darul Da’wah wal Irsyad (DDI) dan Pondok Pesantren DDI Mangkoso.
Perjalanan hari pertama diakhiri dengan kunjungan ke makam K.H. Muhammad Thahir atau Imam Lapeo di Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat — salah satu dari Wali Pitue yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Sulawesi.

Pada hari kedua, setelah beristirahat di kediaman salah satu pembina di Polman, rombongan melanjutkan perjalanan ke makam K.H. Abdul Muin Yusuf atau Kali Sidenreng di Pondok Pesantren Al-Urwatul Wutsqa Benteng, Kabupaten Sidrap.
Perjalanan berlanjut ke Kabupaten Wajo untuk berziarah ke makam AG. K.H. Muhammad As’ad Al-Buqisy dan AG. K.H. Yunus Martan, pendiri Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang — salah satu pondok tertua di Sulawesi Selatan.
Kemudian rombongan berkunjung ke makam Assyekh Sayyid Djamaluddin Al-Akbar Al-Husaini di Tosora, Wajo, ulama yang diyakini sebagai penyebar pertama agama Islam di Sulawesi pada abad ke-14.

Perjalanan ditutup dengan kunjungan ke Pondok Pesantren Ganra di Kabupaten Soppeng untuk bersilaturahmi dan menerima nasehat dari pimpinan pesantren. Tujuan akhir rihlah ini adalah Pondok Pesantren Yasrib Soppeng, tempat makam AG. K.H. Daud Ismail, ulama kharismatik pendiri pesantren tersebut. Rombongan menggelar tahlilan dan disambut dengan hangat oleh pihak Yasrib.

“Maksud dari kegiatan ini adalah bagaimana santri-santri, khususnya kami para pembina, bisa mengambil berkah daripada para alim ulama,” ujar Ustadz Ahmad Munawir, S.Pd., salah satu pembina Pondok Pesantren Multidimensi Al-Fakhriyah.

“Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ‘Ulama adalah pewaris para nabi’. Dengan berziarah ke makam para ulama, kami berharap mendapatkan keberkahan ilmu dan amal mereka yang terus mengalir hingga ke generasi kami dan santri-santri kami,” tambahnya.

Ketua Umum INSAF 2025, Muh. Thanthawy Rudi, juga menyampaikan kesannya terhadap kegiatan rihlah ini.

“Banyak pelajaran yang kami dapatkan dari setiap kunjungan. Semoga tahun depan, kegiatan seperti ini bisa memberikan manfaat yang lebih besar, terutama dalam mengambil keberkahan dari para ulama yang telah kita ziarahi,” ungkapnya.

Kegiatan Rihlah Ziarah Ulama ini menjadi salah satu bentuk penghormatan sekaligus refleksi spiritual bagi para santri dan pembina Pondok Pesantren Multidimensi Al-Fakhriyah dalam meneladani perjuangan dan keikhlasan para ulama terdahulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses